Waktu berjalan tanpa terasa.
Satu tahun berlalu sejak manajemen sekolah mulai berbenah. Lalu tahun kedua pun ikut terlewati. Banyak hal di sekolah itu sudah berubah. Sistem administrasi lebih rapi. Komunikasi antara pimpinan dan guru lebih terbuka. Program-program sekolah juga semakin terarah.
Namun ada satu hal yang masih terasa sama.
Rasa memiliki dari sebagian guru belum benar-benar tumbuh.
Arif yang kini sudah lebih lama mengajar di sekolah itu semakin sering memikirkan hal ini. Ia melihat manajemen sudah berusaha cukup keras. Kepala sekolah sering berdialog dengan guru. Beberapa program penghargaan juga sudah berjalan. Bahkan beberapa kebijakan yang dulu sering dikeluhkan kini sudah diperbaiki.
Tetapi ketika ada kesempatan untuk mempromosikan sekolah, sebagian guru tetap bersikap biasa saja. Tidak menolak, tetapi juga tidak antusias.
Suatu sore setelah rapat, Arif kembali berbincang dengan Pak Rahman di ruang guru yang mulai sepi.
“Pak,” kata Arif pelan, “perubahan sudah berjalan dua tahun. Tapi rasanya banyak guru masih belum merasa sekolah ini benar-benar milik mereka.”
Pak Rahman tidak langsung menjawab. Ia menatap keluar jendela, melihat lapangan sekolah yang mulai lengang.
Kemudian ia berkata dengan suara tenang, “Kadang masalahnya bukan lagi pada sistemnya, tetapi pada luka yang pernah ada.”
Arif mengernyit sedikit, mencoba memahami maksudnya.
Pak Rahman kemudian menjelaskan bahwa dalam sebuah organisasi, pengalaman masa lalu bisa membentuk cara orang memandang tempat kerjanya. Jika seseorang pernah merasa tidak dihargai, pernah merasa suaranya tidak didengar, atau pernah mengalami kekecewaan yang berulang, maka di dalam dirinya akan tumbuh semacam jarak emosional.
Jarak itu tidak selalu terlihat.
Guru tetap bekerja dengan baik. Mereka tetap mengajar dengan penuh tanggung jawab. Tetapi secara batin, mereka menjaga jarak agar tidak terlalu berharap lagi.
Dalam psikologi organisasi, keadaan ini sering disebut detachment, yaitu ketika seseorang tetap menjalankan perannya tetapi tidak lagi terikat secara emosional dengan institusinya.
Arif mulai menyadari sesuatu yang lebih dalam.
Selama ini manajemen memang sudah memperbaiki banyak hal dari sisi sistem. Tetapi perasaan manusia tidak selalu mengikuti perubahan sistem dengan cepat. Kadang yang dibutuhkan bukan hanya kebijakan baru, tetapi pengalaman baru yang terus menerus dirasakan.
Kepercayaan dan rasa memiliki tumbuh dari pengalaman positif yang konsisten dalam jangka panjang.
Selain itu, ada faktor lain yang diam-diam juga mempengaruhi.
Sebagian guru di sekolah itu sudah mengajar sangat lama. Mereka telah melewati berbagai periode kepemimpinan, berbagai perubahan kebijakan, dan berbagai dinamika organisasi. Bagi mereka, sekolah bukan lagi sesuatu yang perlu dipromosikan, tetapi hanya tempat mereka menjalankan profesi sampai masa pensiun tiba.
Identitas mereka lebih melekat pada profesinya sebagai guru, bukan pada institusi tempat mereka bekerja.
Ada pula guru yang sebenarnya mulai melihat perubahan yang baik, tetapi mereka belum merasa perlu terlibat lebih jauh. Dalam pikiran mereka, selama pekerjaan berjalan dengan baik dan suasana kerja cukup nyaman, itu sudah cukup.
Rasa memiliki yang kuat sering kali muncul ketika seseorang merasa bahwa dirinya ikut membangun sesuatu. Jika selama bertahun-tahun mereka tidak merasa terlibat dalam membangun arah sekolah, maka rasa kepemilikan itu memang sulit tumbuh kembali.
Arif akhirnya memahami bahwa membangun budaya organisasi tidak sama seperti memperbaiki bangunan sekolah. Bangunan bisa direnovasi dalam beberapa bulan, tetapi budaya dan perasaan manusia bisa membutuhkan waktu jauh lebih lama.
Kadang bahkan pergantian generasi yang membawa perubahan.
Ketika guru-guru baru datang dengan semangat yang berbeda, ketika pengalaman kerja di sekolah itu semakin banyak memberikan kenangan positif, perlahan suasana organisasi akan berubah.
Budaya tidak berubah melalui satu program atau satu kebijakan.
Budaya berubah melalui perjalanan panjang orang-orang yang hidup di dalamnya.
Dan pada akhirnya, Arif menyadari satu hal sederhana.
Rasa memiliki tidak bisa dipaksa.
Ia hanya bisa tumbuh ketika seseorang merasa bahwa tempat itu bukan sekadar tempat bekerja, tetapi tempat di mana dirinya dihargai, didengar, dan ikut menjadi bagian dari cerita yang lebih besar daripada dirinya sendiri. @maz
... lanjut #3
3/08/2026
Home
/
Pendidikan
/
penilaian
/
Psikologi
/
Menumbuhkan Rasa Memiliki: Perjalanan Panjang Sebuah Sekolah Bangkit dari Dalam (#2)
Menumbuhkan Rasa Memiliki: Perjalanan Panjang Sebuah Sekolah Bangkit dari Dalam (#2)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar