Memasuki tahun kedua kepemimpinan baru, ada satu peristiwa yang cukup menggembirakan bagi sekolah itu. Dari pemerintah pusat Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, sekolah tersebut dinilai mengalami peningkatan dalam pengelolaan administrasi, program pembelajaran, dan tata kelola organisasi. Hasil evaluasi itu akhirnya berbuah pada sebuah penghargaan: sekolah mendapatkan bonus kinerja.
Kabar itu awalnya disambut dengan cukup antusias. Dalam rapat besar yang dihadiri seluruh guru dan staf, kepala sekolah menyampaikan pencapaian tersebut dengan wajah yang terlihat lega.
“Ini bukan hanya keberhasilan manajemen,” katanya saat itu, “tetapi hasil kerja kita semua.”
Beberapa guru bertepuk tangan. Sebagian tersenyum. Di atas kertas, itu adalah pertanda bahwa perubahan yang dilakukan selama dua tahun terakhir mulai terlihat hasilnya.
Namun setelah suasana rapat mereda dan kehidupan sekolah kembali berjalan seperti biasa, Arif kembali memperhatikan sesuatu yang menarik.
Meskipun sekolah telah mendapatkan bonus kinerja, suasana psikologis para guru belum berubah sepenuhnya.
Sebagian guru memang merasa senang, tetapi perasaan bangga itu tidak bertahan lama. Setelah beberapa hari, kehidupan kembali berjalan seperti sebelumnya. Guru tetap mengajar, tetap menjalankan tugas, tetapi semangat untuk benar-benar terlibat dalam membangun citra sekolah masih terasa terbatas.
Arif sempat berpikir, “Bukankah ini seharusnya menjadi momentum kebangkitan?”
Suatu siang ia kembali berbincang dengan Pak Rahman.
Pak Rahman tersenyum tipis ketika mendengar pertanyaan Arif.
“Penghargaan itu penting,” katanya pelan, “tapi penghargaan dari luar tidak selalu langsung mengubah perasaan orang di dalam.”
Arif mulai memahami maksudnya.
Bonus kinerja memang menunjukkan bahwa secara sistem dan manajemen, sekolah sedang bergerak ke arah yang benar. Administrasi lebih tertata, program berjalan lebih rapi, dan evaluasi eksternal memberikan penilaian positif.
Namun dari sudut pandang psikologi organisasi, pengakuan eksternal belum tentu langsung mengubah keterikatan emosional internal.
Bagi sebagian guru, bonus kinerja adalah sesuatu yang datang dari sistem penilaian formal. Mereka menghargainya, tetapi itu belum cukup untuk mengubah pengalaman pribadi yang mereka rasakan selama bertahun-tahun bekerja di sekolah tersebut.
Selain itu, beberapa guru juga memiliki cara pandang yang berbeda terhadap penghargaan tersebut.
Ada yang melihatnya sebagai keberhasilan manajemen. Ada yang menganggapnya sebagai hasil kerja kolektif. Tetapi ada juga yang melihatnya sekadar sebagai bagian dari proses birokrasi yang memang harus dijalani oleh setiap sekolah.
Perbedaan persepsi ini membuat dampak psikologisnya tidak sama bagi setiap orang.
Namun bagi manajemen sekolah, bonus kinerja itu tetap memiliki arti penting. Ia menjadi tanda bahwa proses pembenahan yang dilakukan selama ini tidak sia-sia.
Kepala sekolah kemudian melihat penghargaan itu bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai modal untuk membangun kepercayaan baru.
Dalam beberapa pertemuan berikutnya, ia mulai mengajak para guru melihat pencapaian itu dari sudut pandang yang berbeda.
“Ini bukan sekadar penghargaan,” katanya suatu hari. “Ini bukti bahwa jika kita bekerja bersama, sekolah ini bisa bangkit.”
Perlahan narasi itu mulai ditanamkan. Bukan sebagai kebanggaan yang dipaksakan, tetapi sebagai cerita perjalanan bersama.
Arif menyadari bahwa perubahan budaya memang tidak terjadi dalam satu momen besar. Bahkan penghargaan sekalipun hanya menjadi satu batu kecil dalam jembatan panjang menuju perubahan.
Namun batu kecil itu tetap penting.
Karena dari situlah sekolah mulai memiliki cerita baru untuk dibangun—cerita bahwa mereka pernah mengalami masa sulit, pernah berjuang memperbaiki diri, dan perlahan mulai mendapatkan pengakuan atas usaha mereka.
Dan sering kali, sebuah organisasi mulai menemukan kembali rasa percaya dirinya bukan ketika semuanya sudah sempurna, tetapi ketika mereka mulai melihat bahwa usaha mereka benar-benar membawa perubahan. @maz
...lanjut #4


Tidak ada komentar:
Posting Komentar