Goresan Visioner

Mengasah Nalar Intelektual

Catatan Visioner didedikasikan pada dunia pendidikan yang memuat Jurnal Ilmiah, Opini, Dll

Iklan Komersial

3/08/2026

Menumbuhkan Rasa Memiliki: Perjalanan Panjang Sebuah Sekolah Bangkit dari Dalam (#1)



Pada tahun 2024, di balik megahnya gedung pemerintah daerah berdiri sebuah sekolah yang cukup dikenal masyarakat, sekolah ini sudah berdiri cukup lama. Gedungnya tidak terlalu besar, tetapi setiap pagi halaman sekolah selalu ramai oleh suara siswa yang datang dengan seragam rapi. Dari luar, sekolah itu tampak baik-baik saja. Namun di balik dinding ruang guru, ada sebuah fenomena yang jarang dibicarakan: para guru jarang sekali mempromosikan sekolah tempat mereka bekerja.

Suatu hari, seorang guru muda bernama Arif memperhatikan sesuatu yang aneh. Ketika ada orang tua murid bertanya kepada para guru tentang sekolah itu, sebagian guru menjawab sekadarnya saja. Tidak ada antusiasme. Tidak ada kebanggaan. Bahkan ada yang hanya tersenyum tipis lalu mengalihkan pembicaraan.

Arif bertanya dalam hati, “Bukankah ini sekolah kita? Mengapa tidak ada yang dengan semangat menceritakan keunggulannya?”

Hari demi hari, Arif mulai memahami perlahan apa yang sebenarnya terjadi.

Pertama, ia melihat bagaimana manajemen sekolah berjalan. Keputusan-keputusan penting sering dibuat hanya oleh pimpinan tanpa melibatkan guru. Rapat biasanya hanya berisi pengumuman kebijakan yang sudah diputuskan sebelumnya. Guru hanya mendengarkan, mencatat, lalu kembali ke kelas.

Lama-kelamaan para guru merasa bahwa mereka hanyalah pelaksana, bukan bagian dari perjalanan sekolah. Mereka datang, mengajar, menyelesaikan tugas administrasi, lalu pulang. Sekolah tidak lagi terasa seperti rumah bersama, melainkan hanya tempat bekerja.

Di sisi lain, beban pekerjaan guru semakin banyak. Selain mengajar, mereka harus mengisi laporan, membuat perangkat pembelajaran, mengikuti berbagai program tambahan, hingga menghadiri rapat yang sering berlangsung lama. Ketika muncul harapan agar guru ikut mempromosikan sekolah—misalnya melalui media sosial atau kepada masyarakat—sebagian guru merasa hal itu bukan lagi bagian dari tanggung jawab utama mereka.

Dalam hati mereka muncul pertanyaan sederhana: “Bukankah tugas kami mengajar?”

Namun alasan sebenarnya tidak hanya soal pekerjaan.

Di ruang guru sering terdengar keluhan-keluhan kecil. Ada yang merasa kerja kerasnya jarang dihargai. Ada yang kecewa karena usulan mereka tidak pernah ditindaklanjuti. Ada pula yang merasa hubungan dengan pimpinan terlalu jauh, terlalu formal, sehingga sulit membangun kepercayaan.

Perasaan-perasaan itu tidak selalu diucapkan secara terbuka. Tetapi perlahan menumpuk menjadi jarak emosional antara guru dan sekolah.

Secara psikologis, manusia cenderung mempromosikan sesuatu yang ia banggakan. Kita dengan mudah merekomendasikan restoran yang kita sukai, buku yang menginspirasi kita, atau tempat kerja yang membuat kita merasa dihargai. Namun ketika rasa bangga itu memudar, dorongan untuk bercerita pun ikut hilang.

Hal itulah yang terjadi pada sebagian guru di sekolah tersebut.

Mereka tetap mengajar dengan tanggung jawab. Mereka tetap datang tepat waktu dan mendampingi siswa dengan sabar. Tetapi hubungan mereka dengan sekolah tidak lagi dipenuhi rasa memiliki yang kuat. Sekolah terasa seperti institusi yang terpisah dari diri mereka.

Ada juga faktor lain yang lebih halus, yaitu ketidaknyamanan batin. Beberapa guru merasa bahwa gambaran sekolah yang dipromosikan kepada masyarakat kadang terlalu indah dibanding kenyataan yang mereka lihat setiap hari. Ketika ada jarak antara narasi promosi dan pengalaman nyata, muncul konflik kecil dalam pikiran mereka.

Daripada mengatakan sesuatu yang tidak sepenuhnya mereka yakini, mereka memilih diam.

Arif akhirnya memahami bahwa masalah ini bukan soal loyalitas semata. Para guru itu bukan orang-orang yang tidak peduli. Mereka tetap mendidik siswa dengan sepenuh hati. Namun hubungan emosional antara guru dan organisasi sudah mulai renggang.

Ia mulai menyadari bahwa agar guru mau mempromosikan sekolah dengan tulus, yang perlu dibangun terlebih dahulu bukanlah strategi pemasaran, melainkan rasa kebersamaan. Guru perlu merasa didengar, dihargai, dan dilibatkan dalam perjalanan sekolah.

Jika suatu hari para guru kembali merasakan kebanggaan terhadap tempat mereka bekerja, promosi tidak perlu lagi diminta.

Cerita tentang sekolah itu akan mengalir dengan sendirinya—dari ruang guru, dari percakapan sehari-hari, dan dari hati orang-orang yang merasa benar-benar menjadi bagian darinya.

Lanjut, manajemen sekolah sudah mulai berbenah lebih baik. Tapi tetap saja guru belum berubah

Beberapa bulan kemudian, suasana di sekolah itu mulai berubah.

Manajemen sekolah menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Kepala sekolah yang baru mulai melakukan berbagai perbaikan. Rapat guru kini lebih terbuka. Guru diberi kesempatan menyampaikan pendapat. Beberapa fasilitas diperbaiki, program baru diperkenalkan, bahkan penghargaan kecil mulai diberikan kepada guru yang berprestasi.

Secara manajemen, banyak hal sudah bergerak ke arah yang lebih baik.

Namun Arif kembali memperhatikan sesuatu yang menarik. Meskipun perubahan sudah dilakukan, sikap sebagian guru masih sama. Mereka tetap datang, mengajar dengan baik, tetapi tidak juga menunjukkan antusiasme ketika berbicara tentang sekolah kepada orang lain.

Arif kembali bertanya dalam hati, “Mengapa perubahan ini belum terasa di hati mereka?”

Suatu siang di ruang guru, ia duduk bersama Pak Rahman, salah satu guru senior yang sudah mengajar lebih dari dua puluh tahun. Dari perbincangan santai itulah Arif mulai memahami sisi lain dari persoalan ini.

Pak Rahman tersenyum pelan ketika Arif menceritakan pengamatannya.

“Perubahan itu memang sudah ada,” kata beliau perlahan. “Tapi kepercayaan manusia tidak berubah secepat kebijakan.”

Arif terdiam mendengarkan.

Selama bertahun-tahun sebelumnya, para guru sudah mengalami berbagai kebijakan yang datang dan pergi. Ada program yang awalnya terdengar bagus, tetapi berhenti di tengah jalan. Ada janji yang pernah disampaikan, tetapi tidak pernah benar-benar terwujud.

Pengalaman-pengalaman seperti itu meninggalkan jejak di dalam pikiran para guru.

Secara psikologis, manusia memiliki kecenderungan untuk berhati-hati setelah pernah kecewa. Mereka tidak langsung percaya bahwa perubahan akan benar-benar bertahan. Mereka menunggu. Mereka mengamati.

Bukan karena mereka menolak perubahan, tetapi karena mereka ingin memastikan bahwa perubahan itu nyata dan konsisten.

Selain itu, ada juga faktor kebiasaan.

Selama bertahun-tahun para guru sudah terbiasa bekerja dengan pola yang sama: datang, mengajar, menyelesaikan tugas, lalu pulang. Pola ini perlahan menjadi rutinitas yang stabil. Mengubah kebiasaan yang sudah berlangsung lama tidak bisa terjadi hanya dalam beberapa bulan.

Perubahan budaya membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang dibanding perubahan aturan.

Arif juga mulai melihat bahwa beberapa guru masih menyimpan kelelahan emosional dari masa-masa sebelumnya. Meski kondisi sudah membaik, rasa lelah itu belum sepenuhnya hilang. Seperti seseorang yang baru saja melewati perjalanan panjang, mereka masih butuh waktu untuk benar-benar merasa ringan kembali.

Ada pula guru yang diam-diam masih menunggu bukti.

Mereka ingin melihat apakah manajemen baru ini benar-benar konsisten. Apakah keterbukaan yang sekarang ada akan terus dipertahankan. Apakah penghargaan kepada guru bukan hanya sekadar program sementara.

Dalam psikologi organisasi, hal ini sering disebut sebagai masa pemulihan kepercayaan. Ketika kepercayaan pernah melemah, membangunnya kembali membutuhkan waktu yang jauh lebih lama dibanding merusaknya.

Perubahan yang dilakukan oleh manajemen ibarat menanam benih baru di tanah yang sudah lama kering. Benih itu bisa saja baik, tetapi tanah tetap membutuhkan waktu untuk kembali subur.

Suatu sore ketika sekolah hampir sepi, Arif berdiri di halaman dan memperhatikan para siswa yang pulang satu per satu. Ia mulai memahami bahwa perubahan organisasi sebenarnya adalah perjalanan yang panjang.

Manajemen mungkin sudah mulai berbenah. Sistem sudah mulai diperbaiki. Namun hati manusia tidak berubah melalui perintah atau kebijakan.

Hati berubah melalui pengalaman yang berulang.

Jika para guru terus merasakan bahwa mereka dihargai, didengar, dan dipercaya, perlahan rasa memiliki itu akan kembali tumbuh. Mungkin tidak hari ini, mungkin juga tidak bulan depan. Tetapi suatu saat nanti.

Dan ketika hari itu datang, para guru tidak lagi sekadar bekerja di sekolah itu.

Mereka akan mulai bercerita tentang sekolahnya dengan cara yang berbeda—bukan karena diminta, tetapi karena mereka benar-benar merasa bangga menjadi bagian darinya. @maz

.... lanjut #2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox